Tanah Rantau

Medan….kota ini penuh dengan kerahasiaan tentang banyak arti perjungan hidup,
Kota inilah pertama kali kuinjakan kaki untuk berjuang menuntut ilmu, membekali diri, menasehati diri,
memberanikan diri, pergi merantau begitu jauh dari tanah kelahiran,
Terima kasih akhirnya aku bisa ke tanah ini, Dunia ternyata begitu luas…

 

Tanjung Morawa, Kualanamu, Medan

Advertisements

Insan Cinta

cinta

Sekalipun cinta telah ku uraikan dan ku jelaskan panjang lebar

Namun jika cinta kudatangi, aku jadi malu pada keteranganku sendiri

Meskipun lidahku telah mampu menguraikan

Namun tanpa lidah cinta ternyata lebih terang sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskan

Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai pada cinta

Dalam menguraikan cinta akal terbaring tak berdaya bagaikan keledai berbaring dalam rumput

Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dalam insan

Kau mencintaiku seperti mencintai bunga titah Tuhannya

Tak pernah lelah menebarkan mekar aroma bahagia

Tak pernah lelah meneduhkan gelisahnyala

Kau mencintaiku seperti matahari mencintai titah Tuhannya

Tak pernah lelah membagi cerah cahaya

Tak pernah lelah menghaatkan jiwa

Bahagia itu Simple

“Bahagia tidak harus banyak uang, tidak harus menjadi orang yang kaya raya, tidak harus ribet, ketika kita bisa membagi senyuman kepada sesama, kita berarti bagi orang lain, kita membuat orang lain bahagia, itulah bahagia…”

 

“Just it makes simple and you’ll get simplicity in your life, Happiness is simple… ” 🙂 

8911_10151423603914355_74356046_n

Sepatu Pantofel

Image(010)

Tak terbayang saya memiliki sepasang sepatu ini, dari mulai SD sampai saya kuliah pun saya belum pernah memakai sepatu ini. Bahkan sepatu ini asing buat saya, karena memang saya tidak tertarik untuk memakainya. Baru mengenal nama dan jenis sepatu ini dulu ketika saya ada sebuah acara training leadership di Bandung dan disuruh untuk memakainya dan saya pun hanya memakai sepatu biasa. Waktu itu pun saya masih samar-samar bentuk dan jenis sepatu ini karena sekali lagi saya tak tertarik untuk mengetahuinya apalagi membelinya. Pikir saya buat apa mikir sepatu, sepatu ya sepatu buat dipakai di kaki sama aja kalau kena lumpur ya kotor, kalau kena hujan ya basah nanti lama-kelamaan juga rusak buat apa punya banyak jenis sepatu, cukup punya satu saja juga sudah cukup.

Tak sangka akhirnya sepatu ini sudah ada di depan mata saya. Sekali lagi saya tidak meminta untuk memilikinya. Tetapi bapak ingin sekali saya tampil rapi ketika sidang tugas akhir nanti. Bapak menginkan anaknya tampil gagah layaknya pegawai kantor seperti bapak pernah lihat petugas teller bank BRI ketika saya mengantar bapak mengambil uang. Sepertinya bapak bangga anaknya sebentar lagi menyelesaikan kuliah di perguruan tinggi tidak seperti anak-anak di kampung yang kebanyakan hanya sampai tamat SMA, hanya mereka anak-anak saudagar kaya raya di kampung tapi tak jarang pula anak-anak dari juragan padi yang tidak berani mengkuliahkan anaknya. Karena pandangan mereka tentang pendidikan tinggi masih mahal dan memakan waktu lebih baik anaknya melaut ke luar negeri pulang 2 tahun langsung beli motor Vixion, beli tanah atau lebih favorit lagi beli sawah. Tak seperti mereka, bapak menginkan anaknya mencapai pendidikan tinggi meski kami tak punya tabungan yang cukup. Mungkin melihat anaknya selalu berprestasi di sekolah dan semangat belajar yang tinggi, bapak kasihan melihat anaknya menganggur atau menjadi seperti bapaknya yang hanya tukang servis elektronik. Bapak menghadiahkan saya sebuah sepatu pantofel seminggu sebelum saya sidang tugas akhir. Dan sepatu ini sepatu pantofel pertama saya dan baru pertama kali memakainya saat sidang tugas akhir. Dan ternyata pandangan saya akan tidak bergunanya sepatu ini mulai berkurang, tiap kali saya tes kerja saya selalu memakai sepatu ini dan saya pun tambah percaya diri. Sebelumnya saya hanya memakai sepatu yang kata temenku hanya sepatu mandor proyek, saya pun hanya tertawa, haha…

Dibalik sepatu pantofel itu, ada keinginan besar bapak agar anaknya kelak bisa tampil rapi layaknya pegawai teller di bank atau mungkin bapak ingin anaknya bisa menjadi mandor bangunan yang tampil rapi layaknya pegawai bank. Bapak tak pernah tahu jadi apakah nanti kelak anaknya, setahu bapak dulu ketika saya diterima di universitas ini akan menjadi seorang pegawai negeri sipil yang dulu bapak bangga-banggakan selain menjadi seorang guru tetapi ternyata anaknya bandel tidak mau menjadi guru. Kau tahu teknik sipil dan pegawai negeri sipil tidak jauh beda bukan?

Maaf pak semenjak saya sudah lulus sidang ini saya belum bisa memakai sepatu ini seterusnya dan belum tampil rapi seperti teller bank itu. Tetapi sepatu pantofel ini memberi kesan yang sangat berharga akan kasih sayang orang tua kepada anaknya yang menginkan anaknya suatu saat nanti tidak boleh bernasib sama seperti kedua orang tuanya.

“ It’s special gift for me, thanks my father, I wanna give more than special gift for  u someday” J

Struggle is never end…

Image

Perjuangan…tak kan terelakan…demi mencapai cita-cita……

Raja dangdut bang haji Rhoma Irama bilang seperti itu kan? Lagunya kayak gitu kalau ga salah, koreksi ya kalau salah lirik, hihihihi… 🙂

Life is choice

Ketika kita menjadi seorang fresh graduate atau yang sedang menunggu wisuda seperti saya, banyak pilihan yang ingin kita jalankan ke depannya, apa kita kita ingin menjadi seorang entrepreneur, apa kita ingin menjadi akademisi , apa kita ingin menjadi seorang pengabdi negara kita sebut PNS, menjadi pembela negara atau kita ingin menjadi job seeker. Semuanya tentu pilihan kita, kita mau mulai dari pilhan mana. Sure, it’s ok semuanya tentu ada plus minusnya, ada segi benefit maupun resikonya. Untuk mencapai segala macam pilihan itu tak kan mungkin pilihan itu datang sendiri, tentu kita harus berusaha bergerak menjemput itu semua. Apalagi kompetisi yang semakin kompetitif di zaman era globalisasi dimana perusahaan-perusahaan sudah mulai selektif untuk mendapatkan kandidat yang qualified. Tentu ini menjadi tantangan terbesar terutama mereka yang menjatuhkan pilhan sebagai seorang Job Seeker seperti saya ini,hehe..Kita melamar di perusahaan tertentu dengan free alias gratis yang ga gratis hati-hati anda ketipu hoho.., terus nunggu deh panggilan untuk tes dengan segala macam tingkatan tesnya hingga akhirnya ketrima di perusahaan tersebut. Terus bagaimana dengan menjadi seorang enterpereneur? Yups..kita mungkin tak perlu melamar, tak perlu ikut tes ini tes itu dan segala macemnyalah tapi yang mesti punya adalah semangat untuk memulai usaha itu dan berani segala resiko yang kita nanti kita akan hadapi, dan sekali mereka sukses dengan usahanya tentu tak mustahil menjadi orang terkaya versi majalah Forbes..hehe. Life is choice dan sekarang balik lagi ke kita mau mulai dari mana.

Welcome be a Job Seeker

Setiap kita akan mengaply sebuah pekerjaan tertentu tak lain dan tak lain adalah kita akan mempersiapkan segala persyaratan administratif yang diperlukan kemudian kita akan bertemu dengan tahapan-tahapan tes, seperti tak lain tak lain (“maaf diulang)  adalah psikotes, mungkin FGD (Forum Group Discussion), interview dan sampai tahap akhir medcheck (medical check up maksudnya..) dan akhirnya kita diterima di perusahaan tersebut. Semua Job Seeker pasti paham dengan tahapan tes ini saya juga sudah “nglotok” diluar kepala, hihi… Kerap kali mereka berhasil dengan mulus dan tak jarang hanya sampai pada tahapan tertentu sehingga tak jarang pula kita harus mencoba berkali-kali sampai akhirnya  kita akan menemukan perusahaan yang benar-benar pas buat kita. Itulah one of all struggle, episode demi episode ini yang pasti akan dialami seorang Job Seeker, kita akan berjuang sampai kapanpun dan dimanapun untuk mendapatkan perusahaan yang kita idam-idamkan.

Struggle..Struggle..Struggle…

“Udah rejeki itu sudah ada yang mengatur tenang saja..”

Setuju dengan pernyataan itu?

Saya setuju tetapi kalau udah ada yang ngatur terus kalau kita ga jemput rezeki itu apakah bakalan rejeki itu datang sendirinya ke kita? Kaya kita pengen makanan yang kita suka sengaja di gantungkan dengan tali, pasti kita akan berusaha mendapatkan makanan itu apapun caranya tapi harus dengan cara yang halal ya…J Bagaimana untuk menjemputnya? Ya kita harus datang ke tempat rezeki itu dan kita berjuang untuk mendapatkannya. Jangan cuma menunggu duduk dengan manis slow bermalas-malasan, jangan harap rezeki itu datang kepada kita. Eeenaaakk saja..hehe

Begitulah ketika kita ingin mendapatkan pekerjaan tertentu, ya kita harus berusaha dengan segenap kemampuan kita kapanpun dan dimanapun itu tempatnya ya kita harus menjemputnya, tapi apapun cara kita menjemput rezeki itu yang penting harus halal. Jangan menjadi orang yang gila pekerjaan, jangan hanya ingin mendapatkan sesuatu kita menghalalkan segala cara, nanti ga berkah lhoooo…. Yakinlah dengan segenap usaha dan kemampuan yang kita miliki. Oke.. Go Go Go Struggle… 🙂

Optimist and Positive Thingking

Apabla kita sudah berjuang dengan segenap kemampuan kita, langkah kita selanjutnya adalah berdoa dan bertawakal minta kepada Allah swt agar apa yang kita usahakan mendapatkan yang terbaik untuk kita. Tetap optimislah…

Bila dengan segenap usaha dan kemampuan kita akhirnya harus gagal, janganlah bermurung hati ber positive thingkinglah, yakinlah ada tempat terbaik buat kita nanti atau Allah masih menunda doa kita dan pada saatnya nanti ada waktu yang pas untuk Allah mengabulkan doa kita. Yakinlah itu yang terbaik buat kita, jangan berputus asa, positive thingking and don’t give up, Oke J

Semua orang pasti ingin menjadi orang yang sukses dalam kehidupaannya. Dan yang perlu digaris bawahi adalah  tidak ada orang yang berhasil dengan instant atau dengan sim salabim bah langsung jadi orang yang sukses…tanya aja Pak Karno..nah lho…hehe

Berusahalah karena dengan usaha keras segala yang tidak mungkin menjadi mungkin segala yang sulit menjadi mudah segala yang buntu menjadi terbuka.

“Struggle is never end and you can be a success”.

Karena setiap nafas usaha kita ada Allah yang selalu memberikan tenaga yang extra powerful kepada kita disaat kita jatuh dan lemah, percayalah setiap perjuangan pasti ada ujungnya pasti ada hasil yang kita peroleh dan Allah senantiasa dan selalu memberikan yang terbaik bagi hambanya.

 MAN JADDA WAJADA!!!

”Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil”. 🙂

Evolusi Waktu

evolution_of_music_wall_clock_Aku berkaca pada diri, ternyata sudah berubah. Tak  terkira roda-roda waktu seakan-akan membunuh semuanya. Membunuh? Iya, masa-masa itu, tertawa itu, nakal itu, manja itu, kepolosan itu, permainan-permainan itu, dunia itu. Ah…, kau sudah terjalur bergulir secepat ini, bisakah kau berhenti 1 detik saja. Biarkan aku  istirahat sejenak. Biarkan aku menghirup udara segar itu.

Inikah evolusi? Kau tak hanya merenggut fisikku saja, perubahan bayi sampai aku sebesar ini. Tetapi evolusi waktu dimana saat-saat dulu dituntun, ditatih sedemikan rupa sehingga terasa ringan kaki ini berjalan dan kini harus berdiri tegap berjalan menghadapinya sendiri tantangan demi tantangan yang terkadang berat bahkan terasa lelah untuk melangkah lagi. Dengan jiwa tegar, aku menyadari inilah lika-liku kehidupan. Ada saatnya kita bahagia, ada saatnya kita susah, suatu waktu kita berada di atas dan disaat nanti kita akan berada dibawah, ada saatnya kita dimanja dan ada saat pula kita memang harus berjalan sendiri. Terima kasih evolusi waktu, kau telah menghantarkanku ke masa-masa ini, biarkan ini berjalan, biarkan ini menjadi episode-episode kehidupan  yang suatu saat nanti menjadi sebuah buku perjalanan hidup sampai suatu saat nanti episode ini pun akan berakhir sejalan dengan akhir dari hayat ini. Jangan pernah takut, karena ada sosok kekuatan maha dasyat yang akan selalu menemani kita berjalan mengarungi lika-liku kehidupan ini. Dialah Allah swt dan biarkan  waktu ini berputar mengevolusi diri kita, mengevolusi agar kita menjadi seorang yang lebih baik lagi. 🙂

“Saya tak tahu, berapa waktu yang tersisa untuk saya. Satu jam, satu hari, satu tahun, sepuluh, lima puluh tahun lagi? Bisakah waktu yang semakin sedikit itu saya manfaatkan untuk memberi arti keberadaan saya sebagai hamba Allah di muka bumi ini? Bisakah cinta, kebajikan, maaf dan syukur selalu tumbuh dari dalam diri, saat saya menghirup udara dari Yang Maha?”
― Helvy Tiana Rosa, Risalah Cinta

Nekat….Tak Masalah…..

Lagi-lagi aku harus ke yogya. Senang, gembira perasaan yang selalu mengiringi ketika motor Honda black G 4515 TD ini melaju menyelusuri jalan Ambarawa – Magelang. Jalan yang menuking tajam, deretan antrean truk tronton maupun bus-bus nakal yang seenaknya menyalip tak masalah bagiku terobati dengan view pemandangan tepi jalan yang cukup menggairahkan mata. Pemandangan alam yang menakjubkan menemani perjalanan ke yogya. Kali ini kenekatan ku kembali diuji, “tak masalah ini perjalanan yang harus menyenangkan” kataku lirih. Hahaha…kadang tertawa menghibur perasaan khawatir sementara motor masih melaju dengan kecepatan 60 km/jam.

Malam itu Hp ku berdering nada lagu OST. Perahu kertas dengan merdu dinyanyikan Maudy Ayunda cukup merefleks aku untuk mengambil dan segera mengangkat telpon itu. “Bapakune M3” tulisan itu terlihat di Hp jadulku yang masih ku pertahankan semenjak SMA kelas 1. Suaranya masih OKe dan masih berfungsi normal hanya terlihat tamp1ilan fisik beberapa berkarat dan kamera 3.1 megapixel yang sudah rusak. “Telpon dari bapak”, sahutku. Aku yakin bapak dan ibu mengkhatirkan perjalananku besok, setelah aku mengirimkan sms memberi kabar sekaligus minta doa untuk tes besok. Teringat beberapa bulan yang lalu sudah agak cukup lama ketika aku menceritakan pengalaman selama ke yogya yang harus menginap di hotel kuda laut sebutan kerenku tapi mereka cukup menyebutnya mushola pom bensin dan perjalanan nekatku ke yogya sendiri melewati jalan yang tak pernah aku sentuh sebelumnya. Iya, kenekatanku cukup berhasil ketika aku bisa menaklukan perjalanan ke yogya lewat jalur boyolali. Ini juga yang memotivasi aku untuk kembali melakukan hal yang sama untuk perjalanan ke yogya tapi ini lewat jalur Magelang. “Okelah tak apa, ini demi aku bisa ikut tes itu, ini awal perjuangan”, semangatku cukup menggebu. Sejenak aku membiarkan hp itu berdering cukup keras, aku mencoba sedikit menghela nafas sedikit membayangkan ucapan-ucapan yang nanti keluar ketika aku mengangkat telpon itu. Suara Maudy Ayunda yang merdu hampir mendekati akhir dari lagu Perahu Kertas itu, kembali aku masih memegang HP itu tapi belum tapi masih berat menekan tombol hijau di sudut kiri Hp ku. “Ini harus aku angkat”, kataku. Nafas ini ku tarik panjang dan ku keluarkan pelan-pelan cukup lama, membiarkan perasaan ini lega dan anggap tak terjadi apa-apa. “Ini perjalanan biasa, ini sudah biasa aku lakukan, ini sama seperti aku ke Pemalang naik motor sendiri”, batin ini mengakar cukup kuat memperkuat kenekatan yang kian kokoh. Suara musik terdengar semakin lirih pertanda lagu Perahu Kertas sudah habis, segera ku tekan tombol itu dan sayup-sayup suara ibu mengucapkan salam, terdengar jelas tapi bernada pelan teringat ketika naik kendaraan angkutan kuning yang sangat pelan melaju ke Petarukan.

“Assalamualaikum. ndung..”, salam ibu pelan dan pembicaraan pun dimulai.

 

 

 

Kisah Tiga Buah Coca-Cola….

Teringat ketika saya membaca sebuah buku berjudul “A gift from A friend” dan dibuku itu saya menemukan sebuah kisah yang cukup menarik. Alhamdulilah bisa saya sharekan di blog ini. Berikut kisahnya…

Awal kisah ada tiga buah minuman coca-cola yang diproduksi dalam sebuah pabrik yang sama. Sebut saja Cola A, Cola B dan Cola C. Setelah diproduksi mereka segera dikirim ke tempat-tempat tujuan untuk segera diperjual belikan. Cola A dikirim ke tempat penjual asongan, Cola B ditempatkan di sebuah café sedangkan Cola C dikirim ke salah satu pusat kota di hotel berbintang 7. Ternyata masing-masing Cola dilabel dengan harga yang berbeda ketika mereka dijual dan sampai ke tangan konsumen. Cola A di penjual asongan dijual dengan harga Rp 3000, namun Cola B yang berada di café dilabel dengan harga jual Rp 10000 dan Cola C yang dikirim di hotel berbintang 7 dijual dengan harga Rp 50000.

Ada hal yang menarik dari cerita ini yang sederhana ini, ketika Coca-cola diproduksi pada satu pabrik yang sama dengan bentuk fisik yang sama, rasa yang sama namun ketika mereka ditempatkan di sebuah tempat tertentu untuk diperjualbelikan harga jual mereka berbeda satu sama lain. Dalam hal ini pengaruh lingkungan begitu menentukan harga jual mereka.

Begitu juga dengan manusia, manusia yang sama dengan kemampuan yang sama, sifat dan tingkah laku yang sama bahkan mungkin dengan wujud fisik yang sama, nilai mereka bisa menjadi berbeda ketika mereka ditempatkan di lingkungan tertentu. Lingkungan tertentu baik lingkungan pergaulan, kerja dan tempat lain yang kita sekarang tempati begitu sangat mempengaruhi dengan kepribadian/nilai yang kita miliki. Oleh karena itu, pandai-pandailah memilih lingkungan yang baik agar nilai yang kita miliki menjadi sama baiknya atau lebih baik lagi nilai kita menjadi meningkat lebih baik lagi ibarat Cola C yang sama-sama diproduksi di pabrik yang sama namun menjadi lebih mahal ketika di tempatkan disebuah hotel berbintang 7.

 Semoga bermanfaat…

Jadi Sapi atau Kuda?

Ketika mengingat kedua hewan ini tentu tak jarang kita temui disekitar kita. Tak jarang keduanya sama-sama hewan yang dekat hubungannya dengan manusia, artinya kedua hewan ini memang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tentu kawan-kawan semua pasti tahu kehadiran mereka untuk manusia manfaat maupun segala pengorbanan kedua hewan ini untuk manusia.Tapi disini aku mencoba akan memaparkan keduanya dari kacamata lain. Yang menurutku dapat memberikan sebuah opsi pertanyaan yang cukup menggelitik untuk kawan-kawan semua. Tentu bukan maksud aku main-main atau hanya memberikan sebuah ibarat atau perbandingan belaka, tapi akan memberikan sebuah pandangan bahwa kita sebenarnya mirip sapi atau kuda, Eh salah maksud aku, kita bisa belajar dari kedua hewan ini sehingga mau jadi sapi atau kuda, ya itu terserah kawan-kawan semua.. hehe. Atau mungkin kawan-kawan punya opini lain tentang kedua hewan ini, monggo kawan-kawan berpendapat, kita adalah negara yang merdeka demokrasi..hehe

Cukup intermezonya, kayaknya aku lebih banyak berkata yang ga jelas…hehe

Jadi Sapi atau Kuda ya?

Menurut pandangan penulis, Sapi itu biasa hidup susah tapi pekerja keras. Bagaimana tidak, Si Sapi kerap kali dipaksa kerja rodi oleh si pemiliknya tetapi tetap saja si Sapi nurut aja mau tiap hari hanya dikasih makan rumput. Padahal seperti kita tahu bagian Sapi mana yang ga bermanfaat bagi manusia, dimulai dari tenaganya, tubuhnya jadi santapan lezat dan susu nya pun sering kali kita konsumsi setiap hari. Setelah si Sapi tua, harapan untuk dipelihara dan hidup pun sangatlah kecil (bahasanya makin ilmiah…hehe), Iya paling tidak mereka digiring untuk dijual dan dimanfaatkan untuk dikorban alias santapan-santapan kita semua, ada yang ga doyan daging sapi?hehe…Itulah segelintir kehidupan sapi.

Hmm..Bagaimana dengan si Kuda? Kuda menurutku nasib hewan ini jauh lebih baik dari Sapi. Apalagi Si Kuda yang bagus, si Kuda pasti akan ditampung di tempat-tempat pacuan kuda. Segala kebutuhan gizinya pasti terpenuhi, kalau ga si Kuda ga bakalan jadi The Winner dong? Si Pemiliknya pasti berlomba-lomba menjadikan kudanya menjadi kuda yang terbaik dengan menempuh segala cara..hmmm… Tak hanya kebutuhan makan aja yang enak, tetapi si Kuda juga diberi fasilitas lain. Aku kan udah bilang tadi segala macam cara ditempuh untuk manja-manjain kudanya..hehe..Si Kuda diberi sepatu yang bagus dikasih rumah pula. Wow..aku juga mau yang kaya gitu..hehe

Nah, itulah segelintir pendapat penulis tentang kedua hewan ini. Hayo, kalau ada pilihan mau jadi Si Sapi atau Si Kuda pilih yang mana?hehe..

Kayaknya condong jadi si Kuda nih..tapi, kawan2 ada ga yang milih jadi Sapi..hmmm….

Terkadang kita tak hanya ingin jadi seperti kuda tetapi kita juga ingin punya sosok seperti Sapi. Kira-kira apa kelebihan dan kekurangan kedua hewan ini ya yang bisa kita ambil hikmahnya, mudah2an kawan2 bisa meresapi sendiri…

Radar Neptunus (Part 1)…. d(^_^)b

Rona wajahku sedikit melebar, tawa, senyum dan sedikit kelucuan melihat sesosok gadis yang tak lain adalah Maudy Ayunda, pemeran sosok Kugy mengangkat dan mengacungkan kedua jari telunjuknya dekat telinga ibarat sebuah radar yang bisa mencari keberadaan seseorang, menyebutnya sebagai Radar Neptunus, membuka film yang diangkat dari Novel karya Dewi Lestari (Dee) Perahu Kertas. Aku bilang  ini simbol baru, trend baru bagi mereka yang menggandrungi Perahu Kertas untuk terus berlayar dengan radar pencari “Radar Neptunus… emoticonnya begini kata temenku salah satu anggota agen neptunus ..hehe d(^_^)b

 Menonton film dibioskop sebenarnya momen yang sangat langka bagiku. Disamping dikota ku juga tidak ada yang namanya bioskop, ketika sudah jadi perantau di negeri orang pun jarang sekali aku datang ke tempat yang namanya bioskop. Ketika film yang bagus muncul, paling tidak aku menganggap nanti juga muncul di TV. Dan akhirnya kesempatan itu datang, layaknya durian jatuh di kepalaku momen yang paling bersejarah dalam hidupku itu akhirnya datang juga, film ini ku predikati dan kuberi gelar film keduanya aku menonton di bioskop. Terimakasih atas kebaikan dan amal kawan-kawanku yang telah sudi mengajakku film yang sebenarnya sudah aku nanti setelah melihat cuplikan trailernya di salah satu stasiun televise..hehe (agak lebay dikit…). Novel Perahu Kertas dan lagu OST. yang bagus apalagi karya dari seseorang penulis Novel yang taka sing lagi bagiku.

 Hari Rabu siang kemaren tepatnya pukul 12.15 WIB tanggal 12 September 2012  menjadi hari bersejarah bagiku. Aku bersama kawan2ku bertiga, kebetulan salah satunya pengidola sosok Maudy Ayunda si pemilik gigi kelinci yang imut kata temenku sontak langsung masuk ke dalam bioskop dengan penuh semangat 45. Kami duduk di bangku 11 deretan sekitar nomer 5 dari depan. Taste yang pertama kali muncul waktu itu, kita seperti makhluk aneh. Kenapa aneh?? Iya, tak ragu2 aku menoleh kebelakang, Lho ko penontonnya cewek semua ya….???, “Kita ga salah masuk film kan, ri?, sedikit mringis tertawa (sekarang Anda boleh tertawa, kalau ada mood ya…hehe). Tetapi ku buang jauh-jauh keanehan kita yang penting aku bisa nonton film yang satu ini, temen2ku mengangguk dan sedikit tertawa. Hampir 15 menit, penonton sudah mulai cukup banyak. Tak hitung penonton cowo ada beberapa, dan aku melihat sosok yang ternyata lebih aneh dan parah dari kita aku menyebutnya (4 cowok macho Perahu Kertas), aku berpendapat mungkin orang tersebut lagi galau, hanya sendiri duduk tak jauh dari tempat duduk kita terlihat samar2 tertutup kegelapan. Ku pandang pelan-pelan, sedikit ku fokuskan lensa mataku, sorot cahaya terkadang sedikit menampakkan sosoknya. Tak lama tatapanku sedikit hilang pudar, fokus lensa mataku sedikit aku perbesar dan perlahan demi perlahan ku alihkan, layar televisi kurang lebih 1000 inchi itu mulai menyorotkan cahaya berupa gambar Sampul hijau Novel Perahu Kertas mengalihkan perhatianku, hati sedikit berdebar-debar dan pergelaran film pun segera dimulai…… (to be continued…) 🙂