Sekedar menulis…. “Peduli….Kapan Kau Ambil Yang Punya Hati?

Pagi ini pagi ini yang indah menurutku, aku bisa lihat cahaya terang masuk lewat sela-sela lubang ventilasi kamar kosku yang berukuran tak kurang dari 3×3 m ini. Tak ada mendung, tak ada kuliah, tak ada ngantuk, tak ada buku Matematika 4, tak ada kalkulator, tak ada keringat jogging bahkan tak ada lagu cherrybell. Aku lihat sekelilingku ada bantal dan temen se kamar yang masih terbawa alam mimpi. Yang aku sedihkan, si Poppy, kura-kura kecil yang tak sengaja aku pelihara masih dalam status DH2 (Daftar Hewan Hilang), udah satu minggu hilang entah dia sedang berpetualang dimana. Berharap belum sampai ke Perancis sebelum aku sampai duluan, berharap dia merindukanku dalam perjalanannya dan bisa kembali pulang tanpa tersesat. Kadang aku merenung, mungkin dia membenciku yang kadang lupa memberinya pellet makanan kesukaannya atau dia bosan dengan rumahnya yang hanya aku taruh di sebuah bak bullet berukuran M (Medium). Sungguh bener kata ibuku, penyesalan selalu datang di akhir. Yang aku sedihkan, aku masih dalam status DMBS (Daftar Mahasiswa Bebas Skripsi), masih menggantung menunggu skripsi, berharap dosen pembimbing baik hati menghampiri tetapi mesti optimis wisuda tahun ini. Yang aku sedihkan, aku baru aja kehilangan blog jelekku (Andy Civilianz Blog), aku tak bisa posting dan ngapa-ngapain lagi disana, sungguh aku tak mau menyalahkan siapa-siapa dan membuka lembaran baru dengan mencoba bereksperimen dengan blog baru. Dan Yang aku sedihkan, tak nyangka waktu bergulir menggelinding begitu cepat, wktu terasa masuk kemarin di UNDIP sekarang  roda-roda waktu itu tega menggulirku pada semester akhir, tentu tak berharap banyak kegalauan ada disana, wajah-wajah penuh senyum sepertiku harus tegar dan optimis.

Pagi ini bayang-bayang pikiranku terinspirasi pada satu hal yang membuat jari ini gatal untuk mengetik di depan laptop HP PAVILION G42 Spesifikasi Core i-3 250 GHz yang setia menemaniku mencurahkan segenap ide tulisan yang ga jelas ini. Berikut sudah agak lama vakum blogging tapi lancar update status Facebook dan twitter yang tidak lama aku launching baru kemaren. Dan semangat menulis kembali hadir setelah aku baca buku Septiawan S. “Menulis itu ibarat ngomong” dan sedikit motivasi dari Ir. Heppy Trenggono, M.Kom acara sarasehan mahasiswa nasional di Hotel Pandanaran kemaren sore.  Terimakasih pak heppy sudah memberiku tambahan ilmu dan tetntunya snack yang enak bergizi berkelas ala Cheef Sarah Queen yang suka tonton di Trans TV , berharap punya calon cantik dan pintar masak sepertinya.

Bermula dengan perjalanan ke tempat Workshop arah hotel Pandanaran, kemacetan menghantamku di lampu abang ijo arah simpang lima. Aku yang mengendarai motor Supra Black G 4515 TD berboncengan dengan temen partner skripsiku dengan sabar maju mundur dikit demi dikit menunggu mobil depanku sana segera banting stir melaju pesat bagai pesawat Jet bermesin Tornado. Kadang emang sebel keadaan kaya gini. Tapi akhirnya menunggu 5 menit pun baru cukup membuatku lega, walau aku harus berhenti lagi di pas garis tipis lampu abang ijo. Lampu merah terpaksa menghentikanku lagi selama 75 detik. Di situlah aku melihat sosok cowok lusuh, mungkin masih berumuran bocahan, badannya Gede bukan karena tubuhnya yang atletis bak Ade Rai tapi berlemak tak seperti orang biasanya. Aku pikir dia tak bisa berdiri karena tubuhnya dipenuhi lemak jahat sampai dia hanya bisa duduk sambil pegang gitar kentrungan dengan muka belas kasih orang2 yang peduli disana. Sungguh aku tak kuasa melihatnya, sambil menunggu lampu merah berganti dengan hijau aku tatap dia dan terbayang sesuatu yang kadang ingin aku ucapkan “Rasa Syukur”. Ternyata masih banyak orang-orang yang jauh lebih susah dan mereka tak peduli dengan keadaan dirinya sendiri hanya demi duwit atau mungkin karena hanya ingin makan sesuap nasi. Tuhan kenapa kau hadirkan orang-orang sperti ini berbalik dengan bumi yang kau ciptakan begitu indah seperti ini. Aku sedikit melamun sampai temen belakang boncenganku menapuk keras punggungku karena lampu udah berganti hijau, aku kaget dan dengan refleks menurunkan gigi motor ke gigi 2 dan segera melesat menjauh dari bangjo, melesat pandangan dari orang itu walau bayang-bayang masih meratapi keadaan dia. Andai semua orang tahu apa yang sedang dia rasakan saat ini, pikirku. Di tempat lain, saat aku pulang ke tempat kelahiran, Pemalang, aku melawati bangjo deket Sam Po Kong, lampu merah pun menyala dan setiap orang yang berkendara berhenti. Di depan kami disajikan orang2 yang pake baju daerah, mereka menari-nari mengikuti alunan musik gamelan. Semuanya lengkap dandanan bak orang menampilkan performa terbaik di panggung pentas seni. Disegelintir pemainnya Kulihat seorang wanita dengan dandanan lengkap ala penari. Dia begitu ramah tersenyum sambil membawa kotak kecil, berharap mereka mau menyisihkan uangnya. Kulihat baik-baik wanita yang berparas cantik, dandanannya menutupi wajah yang cukup tua itu, aku berpikir dia begitu ikhlas menikmati pekerjaannya, dia tersenyum ramah melihat kami sepertinya tak tahu dibalik hati kita-kita yang melihat. Mungkin merasa terhibur sambil menunggu warna hijau menyala atau memaki-makinya karena merasa terganggu atau menganggap mereka begitu rendahnya meminta-minta di jalanan. Aku berpikir kenapa mereka melakukan pekerjaan seperti ini, aku yakin tak seberapa yang mereka dapatkan. Senyuman ramah wanita itu sebentar-sebentar menghiasi perjalanan pulangku.

Tak jauh-jauh dari tempat kosku menginap, kebetulan didepan kos ada pembangunan kos baru. Ketika itu  aku melihat-melihat para kuli bangunan itu sedang kerja keras dengan masing-masing tugasnya padahal panas matahari begitu menyengatnya berbanding terbalik dengan keadaan temen-temenku yang sedang berada di dalam kos, dengan santainya tidur-tiduran ditemani dengan angin kipas yang sepoi-sepoi. Pandanganku tertuju pada seorang kuli wanita yang sudah cukup tua, dia sedang mengaduk-adukan campuran semen. Sungguh, begitu luar biasanya wanita itu. Tanpa lelah, tanpa melihat kulitnya yang sudah mulai kusut, tanpa melihat pekerjaan berat yang diembannya, dia bekerja keras melawan terik matahari.  Apa tak ada pekerjaan lain? Tanya dalam hatiku….Uang…iya..uang…karena uang dan demi kelangsungan hidupnya…..

Tak kusangka banyak hal yang harus kita pelajari dari apa yang kita amati dan alami dalam kehidupan ini. Terutama manusia yang memang notabene diciptakan punya hati. Peduli…kata ini memang mudah diucapkan tapi kadang kita sulit melakukannya…Tak pelik negeri ini yang banyak orang2 kaya dimana-mana,, tapi dimana orang-orang kaya yang “Dermawan” itu?? Karena uang mereka buta, Iya..“Korupsi” sudah menjadi perlombaan besar bagi orang-orang kaya yang tak punya hati…Mereka berlomba-lomba mencari berkarung-karung uang tanpa memikirkan jalan apa yang mereka tempuh. Andai mereka melihat orang-orang yang sedang kelaparan saat ini, yang sedang berjuang mencari sesuap nasi. Dimana manusia itu yang punya hati? Peduli….Kapan kau ambil yang punya hati?

Kadang kita memang harus merenungi apa yang kita punya dan mensyukurinya. Disaat bahagia cobalah berbagi senyum dengan mereka, atau paling tidak dengan orang-orang terdekat di sekitar kita. Disaat kita sedih, cobalah renungi apa diluar sana ada yang lebih menderita dari kita. Iya…peribahasa ini memang betul. “Memberi lebih baik dari pada menerima”.

Kita belajar dari kehidupan dan mencoba terus dan terus memperbaiki diri. Kita dan penulis sendiri adalah manusia biasa yang khilaf yang kadang apa yang dilakukan tak seperti apa yang dikatakan. Semoga ini menjadi pembelajaran bersama, karena manusia tak lepas dari belajar dan berusaha untuk memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Terus tersenyum dan pedulilah, untuk membahagiakan diri dan orang-orang yang ada disekeliling kita.

Advertisements

Komentarmu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s