Nekat….Tak Masalah…..

Lagi-lagi aku harus ke yogya. Senang, gembira perasaan yang selalu mengiringi ketika motor Honda black G 4515 TD ini melaju menyelusuri jalan Ambarawa – Magelang. Jalan yang menuking tajam, deretan antrean truk tronton maupun bus-bus nakal yang seenaknya menyalip tak masalah bagiku terobati dengan view pemandangan tepi jalan yang cukup menggairahkan mata. Pemandangan alam yang menakjubkan menemani perjalanan ke yogya. Kali ini kenekatan ku kembali diuji, “tak masalah ini perjalanan yang harus menyenangkan” kataku lirih. Hahaha…kadang tertawa menghibur perasaan khawatir sementara motor masih melaju dengan kecepatan 60 km/jam.

Malam itu Hp ku berdering nada lagu OST. Perahu kertas dengan merdu dinyanyikan Maudy Ayunda cukup merefleks aku untuk mengambil dan segera mengangkat telpon itu. “Bapakune M3” tulisan itu terlihat di Hp jadulku yang masih ku pertahankan semenjak SMA kelas 1. Suaranya masih OKe dan masih berfungsi normal hanya terlihat tamp1ilan fisik beberapa berkarat dan kamera 3.1 megapixel yang sudah rusak. “Telpon dari bapak”, sahutku. Aku yakin bapak dan ibu mengkhatirkan perjalananku besok, setelah aku mengirimkan sms memberi kabar sekaligus minta doa untuk tes besok. Teringat beberapa bulan yang lalu sudah agak cukup lama ketika aku menceritakan pengalaman selama ke yogya yang harus menginap di hotel kuda laut sebutan kerenku tapi mereka cukup menyebutnya mushola pom bensin dan perjalanan nekatku ke yogya sendiri melewati jalan yang tak pernah aku sentuh sebelumnya. Iya, kenekatanku cukup berhasil ketika aku bisa menaklukan perjalanan ke yogya lewat jalur boyolali. Ini juga yang memotivasi aku untuk kembali melakukan hal yang sama untuk perjalanan ke yogya tapi ini lewat jalur Magelang. “Okelah tak apa, ini demi aku bisa ikut tes itu, ini awal perjuangan”, semangatku cukup menggebu. Sejenak aku membiarkan hp itu berdering cukup keras, aku mencoba sedikit menghela nafas sedikit membayangkan ucapan-ucapan yang nanti keluar ketika aku mengangkat telpon itu. Suara Maudy Ayunda yang merdu hampir mendekati akhir dari lagu Perahu Kertas itu, kembali aku masih memegang HP itu tapi belum tapi masih berat menekan tombol hijau di sudut kiri Hp ku. “Ini harus aku angkat”, kataku. Nafas ini ku tarik panjang dan ku keluarkan pelan-pelan cukup lama, membiarkan perasaan ini lega dan anggap tak terjadi apa-apa. “Ini perjalanan biasa, ini sudah biasa aku lakukan, ini sama seperti aku ke Pemalang naik motor sendiri”, batin ini mengakar cukup kuat memperkuat kenekatan yang kian kokoh. Suara musik terdengar semakin lirih pertanda lagu Perahu Kertas sudah habis, segera ku tekan tombol itu dan sayup-sayup suara ibu mengucapkan salam, terdengar jelas tapi bernada pelan teringat ketika naik kendaraan angkutan kuning yang sangat pelan melaju ke Petarukan.

“Assalamualaikum. ndung..”, salam ibu pelan dan pembicaraan pun dimulai.

 

 

 

Advertisements

Komentarmu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s