Sepatu Pantofel

Image(010)

Tak terbayang saya memiliki sepasang sepatu ini, dari mulai SD sampai saya kuliah pun saya belum pernah memakai sepatu ini. Bahkan sepatu ini asing buat saya, karena memang saya tidak tertarik untuk memakainya. Baru mengenal nama dan jenis sepatu ini dulu ketika saya ada sebuah acara training leadership di Bandung dan disuruh untuk memakainya dan saya pun hanya memakai sepatu biasa. Waktu itu pun saya masih samar-samar bentuk dan jenis sepatu ini karena sekali lagi saya tak tertarik untuk mengetahuinya apalagi membelinya. Pikir saya buat apa mikir sepatu, sepatu ya sepatu buat dipakai di kaki sama aja kalau kena lumpur ya kotor, kalau kena hujan ya basah nanti lama-kelamaan juga rusak buat apa punya banyak jenis sepatu, cukup punya satu saja juga sudah cukup.

Tak sangka akhirnya sepatu ini sudah ada di depan mata saya. Sekali lagi saya tidak meminta untuk memilikinya. Tetapi bapak ingin sekali saya tampil rapi ketika sidang tugas akhir nanti. Bapak menginkan anaknya tampil gagah layaknya pegawai kantor seperti bapak pernah lihat petugas teller bank BRI ketika saya mengantar bapak mengambil uang. Sepertinya bapak bangga anaknya sebentar lagi menyelesaikan kuliah di perguruan tinggi tidak seperti anak-anak di kampung yang kebanyakan hanya sampai tamat SMA, hanya mereka anak-anak saudagar kaya raya di kampung tapi tak jarang pula anak-anak dari juragan padi yang tidak berani mengkuliahkan anaknya. Karena pandangan mereka tentang pendidikan tinggi masih mahal dan memakan waktu lebih baik anaknya melaut ke luar negeri pulang 2 tahun langsung beli motor Vixion, beli tanah atau lebih favorit lagi beli sawah. Tak seperti mereka, bapak menginkan anaknya mencapai pendidikan tinggi meski kami tak punya tabungan yang cukup. Mungkin melihat anaknya selalu berprestasi di sekolah dan semangat belajar yang tinggi, bapak kasihan melihat anaknya menganggur atau menjadi seperti bapaknya yang hanya tukang servis elektronik. Bapak menghadiahkan saya sebuah sepatu pantofel seminggu sebelum saya sidang tugas akhir. Dan sepatu ini sepatu pantofel pertama saya dan baru pertama kali memakainya saat sidang tugas akhir. Dan ternyata pandangan saya akan tidak bergunanya sepatu ini mulai berkurang, tiap kali saya tes kerja saya selalu memakai sepatu ini dan saya pun tambah percaya diri. Sebelumnya saya hanya memakai sepatu yang kata temenku hanya sepatu mandor proyek, saya pun hanya tertawa, haha…

Dibalik sepatu pantofel itu, ada keinginan besar bapak agar anaknya kelak bisa tampil rapi layaknya pegawai teller di bank atau mungkin bapak ingin anaknya bisa menjadi mandor bangunan yang tampil rapi layaknya pegawai bank. Bapak tak pernah tahu jadi apakah nanti kelak anaknya, setahu bapak dulu ketika saya diterima di universitas ini akan menjadi seorang pegawai negeri sipil yang dulu bapak bangga-banggakan selain menjadi seorang guru tetapi ternyata anaknya bandel tidak mau menjadi guru. Kau tahu teknik sipil dan pegawai negeri sipil tidak jauh beda bukan?

Maaf pak semenjak saya sudah lulus sidang ini saya belum bisa memakai sepatu ini seterusnya dan belum tampil rapi seperti teller bank itu. Tetapi sepatu pantofel ini memberi kesan yang sangat berharga akan kasih sayang orang tua kepada anaknya yang menginkan anaknya suatu saat nanti tidak boleh bernasib sama seperti kedua orang tuanya.

“ It’s special gift for me, thanks my father, I wanna give more than special gift for  u someday” J

Advertisements

3 thoughts on “Sepatu Pantofel

  1. “teknik sipil dan pegawai negeri sipil gak jauh beda”.bisa juga buat ngakalin orang tua.

Komentarmu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s